Cara Riset Petani Yang Keliru: Yuk ubah risetmu supaya besok panen maksimal..

Bertani adalah salah satu profesi yang ada sejak lama, bahkan sebelum masyarakat berkembang menjadi masyarakat perkotaan/modern. Jadi, bertani telah menjadi profesi oleh sebagian besar masyarakat pedesaan.

Kebutuhan akan konsumsi menjadi alasan utama sebuah profesi – bisnis itu muncul, dalam hal ini yakni bertani. Mereka menggunakan modal lahan yang tersedia (baik yang dimiliki sendiri atau menyewa lahan) untuk bercocok tanam dengan harapan hasil panen yang didapat di kemudian hari dapat menyukupi kebutuhan sehari-hari.

Sehingga, goal yang menjadi tujuan para petani adalah hasil panen mereka dapat dihargai dengan pantas oleh pasar. Bahkan beberapa petani mengharapkan hasil panen mereka bisa menembus harga yang tinggi, seperti belakangan ini terjadi.

Mengutip kompas.com, harga cabai mengalami kenaikan 22,48 persen dalam kurun waktu 1 (satu) bulan terakhir yakni rentang tanggal 11 Februari – 12 Maret 2021. Dijelaskan pula alasan yang memicu kenaikan tersebut, disebabkan oleh tingginya curah hujan di sejumlah sentra produksi sehingga mengakibatkan komoditas cabai mengalami kegagalan panen. 

Hal tersebut menyebabkan jumlah hasil panen yang diperoleh para petani menjadi sedikit, sehingga jumlah pasokan cabai di pasar sedikit. Sementara peminat terhadap cabai yang tinggi, menjadikan cabai di pasaran menjadi langka dan berujung pada kenaikan harga.

Fenomena ini lah yang sebenarnya diharapkan dan ditunggu oleh para petani tentu harga jual yang melambung tinggi mereka akan mendapatkan hasil yang tinggi. Namun kondisi itu memang tidak mudah dibaca apalagi ditebak oleh kalangan petani. 

Hal itu karena kenaikan harga suatu komoditas sejatinya memiliki pola unik (demand-supply), sehingga ketika petani dapat membaca pola tersebut besar kemungkinan hasil panen petani selanjutnya dapat diproyeksikan akan naik di masa yang akan datang.

Sehingga, masyarakat petani mencoba melakukan riset tentang rencana jangka panjang-pendek terhadap komoditas apa yang akan dipanen; hingga pemilihan waktu tanam suatu komoditas, supaya dapat menemui dan dapat berkesempatan menjual hasil panen dengan harga yang sesuai saat masa panen.

Namun, kebanyakan petani dalam aktivitas riset tersebut cenderung hanya melihat dan membaca dari berita media saja, apalagi bermodal berita viral. Sehingga bukannya memilih keputusan berdasarkan data lapangan, mereka malah sekedar ikut-ikutan. Akibatnya, terjadi penurunan harga cabai karena oversupply.

Padahal tahukah warga sekalian, bahwa meriset berita di media perlu mengubah cara berpikir kita terlebih dahulu ke sudut pandang tertentu. Kita jangan meriset hanya dengan membaca berita secara gamblang dan lalu kita menirunya, itu sama dengan mengikuti arus.

Dalam prinsip ekonomi terdapat istilah (demand-supply), artinya suatu pasokan harus sesuai dengan kebutuhan, istilah ini harus seimbang (tidak boleh ada yang melebihi diantara keduanya). 

Jika pasokan tidak dapat me-cover kebutuhan artinya akan terjadi kelangkaan (harga akan naik); jika pasokan melampaui kebutuhan artinya terjadi oversupply (harga akan turun). Ini merupakan contoh cara berpikir yang tepat pada umumnya.

Namun yang selama ini terjadi, kebanyakan petani hanya melihat dan membaca dari berita media saja, apalagi bermodal berita viral. Sehingga bukannya memilih keputusan berdasarkan data lapangan, mereka malah sekedar ikut-ikutan. Akibatnya yaitu, terjadi penurunan harga cabai karena oversupply.

Baca Juga: bagaimana cara/metode petani me-riset supaya bisa membaca peluang?

Komentar